"Aduh kang maaass...kok lama sekali,kasihan dong
mbake." Aku terkekeh mendengar guyonan ibu."Maklum bu tadi rame sih
...monggo mbak silakan" Ibu pura-pura melotot.
"Ibu gak ditawarin juga to kang mas?" Gadis
berjilbab disebelah ibu tertawa kecil.Mukaku memerah malu. "Ah ibu ini
bisa aja,hahahha...monggo bu unjukanipun." Ibu tergelak.
"Ya dah ntar
saja semuanya tak kenalin sama mbake ini,insya allah mulai besok resmi jadi
temen baru kalian.tuh ada pembeli...monggo bu,bade ngersake napa?"
Begitulah ibu Azizah ramah,sumringah,dan perhatian.Semua
karyawan toko menghormati beliau. "Wah feelingku benar toh...jadi
berdebar-debar ni" Gumamku dalam hati sambil sekilas menatap ke arah calon
karyawan baru itu.
***
Adzan ashar berkumandang.Menyeruak diantara hiruk pikuk
orang-orang yang berlalu lalang di pasar Salaman dan Lalu lalang kendaraan yang
melintasi komplek ruko yang berderet-deret disepanjang jalan raya
Magelang-Purworejo.Memanggil tiap muslim untuk datang menunaikan ibadah yang
diwajibkan bagi yang telah baligh.
Seperti biasa saat sore menjelang pembeli yang datang ke
toko sudah tidak terlalu banyak.Aku,Dian,dan Rini duduk santai di teras toko
sambil menikmati suasana sore pasar salaman yang masih ramai. "Mas...mbake
semuanya kesini!"
Serempak kami semua bergegas ke meja kasir menemui ibu yang
sudah hampir sejam lebih ngobrol dengan tamunya. "Mas Hanafi..mbak
Dian,mbak Rini perkenalkan teman baru kalian.Insya Allah mulai besok resmi
bekerja disini."
Gadis itu tersenyum.
"Assalammualaikum mbak
semuanya...mase,nama saya syarifah.Mohon bimbinganya ya?" Dian dan Rini
bergantian menyalami gadis berjilbab yang ternyata bernama Syarifah. Kecuali
aku karena bukan muhrim maka cukup menangkupkan kedua tangan.
**
"Gimana
tanggapanya kang mas?" Aduh seperti biasa aku jadi bahan guyonan ibu.
Setelah Syarifah pamit dan ketika toko mau tutup ibu ikut nimbrung bersama kami
di teras depan. Aku garuk-garuk kepala. "Gimana apanya bu?" Tanyaku
pura-pura tidak tahu padahal ibu dan semua kawanku tahu kalau aku mengidolakan
cewek berjilbab.
"Walah gayamu Mas ....bukanya kamu demen sama cewek
berjilbab,Syarifah manis dan imut-imut lo?" Aku terkekeh dan juga kedua
temanku. "Ah ibu bisa aja...ya emang bu Syarifah kelihatan manis dan imut-imut,tapi
saya kan juga gak tahu dia sudah ada yang punya apa belum?"
"Ciiieeeeee.......!!!"
***
"Wah datang-datang sumringah banget,Ada apa gerangan...?" Setiba di
warung mbak Herni menyambutku terheran-heran melihatku terkesan
menyimpan suatu rahasia.Aku sendiri juga ndak tahu kenapa.Cuma masih
terkesan saja dengan cewek berjilbab yang mengajukan lamaran
pekerjaan.Tiba-tiba jadi deg-degan dan feelingku mengatakan mungkin
gadis itu diterima kerja oleh ibu.Sebab selama setahun aku kerja disini
sudah paham betul bagaimana ibu tidak akan lama menolak dengan halus
kalau ada yang melamar pekerjaan kalau memang tidak sreg dengan orang
yang melamar. "Es jeruk dua gelas ya mbak..." "Tumben pesen dua ...ada
tamu ya?" Aku mengangguk,"Iya mbak dia mau melamar pekerjaan."Jawabku
memberi keterangan. "Oh cewek berjilbab tadi ya?" Aku kembali
mengangguk. "Kayaknya diterima ibu deh...biasanya kan gak lama kalo ibu
menolak orang yang mau melamar pekerjaan." Mbak Herni pun sependapat.
"Aku yang nganterin es nya ya mbak?" Pintaku melihat mbak Indri karyawan
mbak Herni selesai membuatkan pesanan. "Halaahh gayamu han...bilang
aja kamu naksir,kan tipe kamu banget tuh...berjilbab,cantik lagi.." "Ah
mbak bisa aja." "Awaaass ya Han kalau kamu sampai naksir sama dia
...brarti kita putuuuussss!" Aku terkekeh mendengar candaan dari mbak
Herni.

